Artikel PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL ANGKA 1-10 MELALUI MEDIA BENDA ALAM PADA ANAK KELOMPOK A RA WALI SONGO JATI GUNTING
PENINGKATAN KEMAMPUAN
MENGENAL ANGKA 1-10 MELALUI MEDIA BENDA ALAM PADA ANAK KELOMPOK A RA WALI SONGO
JATI GUNTING
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenal angka 1-10 melalui media
benda alam. Jenis penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Subjek
penelitian ini adalah 15 anak Kelompok A RA Wali Songo, yang terdiri dari 10
laki-laki dan 5 perempuan. Objek penelitian adalah kemampuan anak dalam
mengenal angka 1-10 dengan mempergunakan media benda alam yang dianggap menarik
dan bentuknya bervariasi.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
observasi kemampuan berhitung dan menulis angka di udara, tes lisan kemampuan
mengenal angka dan tes tertulis kemampuan menebalkan angka dan menulis angka.
Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif kualitatif
dan kuantitatif. Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
bermain dengan media benda-benda alam dapat meningkatkan kemampuan mengenal
angka 1-10 melalui media benda alam khususnya di Kelompok A RA Wali Songo. Cara
mengenalkan angka 1-10 melalui media benda-benda alam adalah (1) anak belajar
berhitung 1-10 dengan mempergunakan berbagai media alam seperti daun, batu,
biji dan kerang. (2) anak belajar
mengenal angka 1-10 dengan mempergunakan angka yang dipersiapkan guru. (3) anak
belajar menulis angka 1-10 di udara dengan menirukan gerakan yang guru ajarkan.
(4) anak belajar menebalkan angka pada lembar LKA yang dipersiapkan, dan tahap
(5) anak melengkapi untuk menulis angka pada lembar LKA yang juga sudah
dipersiapkan oleh guru. Media yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan anak
dalam mengenal angka lebih efektif dengan menggunakan benda alam yang jarang
anak lihat seperti kerang, batu putih, biji-bijian dan daun. Karena benda-benda
tersebut bagi anak menarik dan nyata untuk digunakan ketika bermain. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa bermain sambil belajar dengan menggunakan
media benda-benda alam lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan mengenal
angka sebagai lambang banyaknya benda pada anak RA.
KataKunci: Kemampuan mengenal angka, Benda-benda
alam
ABSTRACT
This study
aims to improve the ability to recognize numbers 1-10 through the media of
natural objects. This type of research is a descriptive qualitative method. The
subjects of this study were 15 children of Group A RA Wali Songo, consisting of
10 boys and 5 girls. The object of research is the child's ability to recognize
numbers 1-10 by using the media of natural objects that are considered
interesting and vary in shape. The data collection techniques used are
observation of the ability to count and write numbers in the air, an oral test
of the ability to recognize numbers and a written test of the ability to
thicken numbers and write numbers. The data analysis technique used is
descriptive qualitative and quantitative analysis techniques. The results of
the research that have been done can be concluded that playing with the media
of natural objects can improve the ability to recognize numbers 1-10 through
the media of natural objects, especially in Group A RA Wali Songo. How to
introduce the numbers 1-10 through the media of natural objects is (1) the
child learns to count 1-10 using various natural media such as leaves, stones,
seeds and shells. (2) children learn to recognize numbers 1-10 by using numbers
prepared by the teacher. (3) the child learns to write numbers 1-10 in the air
by imitating the movements that the teacher teaches. (4) the child learns to
thicken numbers on the LKA sheet prepared, and in step (5) the child completes
to write numbers on the LKA sheet that the teacher has also prepared. The media
used to improve children's ability to recognize numbers is more effective by
using natural objects that children rarely see such as shells, white stones,
seeds and leaves. Because these objects are interesting and real for children
to use when playing. Thus it can be concluded that playing while learning by
using the media of natural objects is more effective in increasing the ability
to recognize numbers as a symbol of the number of objects in RA children.
Keywords: ability to know of numbers,
natural objects
I.
pendahuluan
Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) merupakan jenjang pendidikan yang penting dalam proses
perkembangan anak. Perkembangan anak itu lebih banyak terjadi pada saat usia
dini (Slamet Suyanto, 2005: 7) yaitu masa usia dini disebut sebagai masa golden
age, pertumbuhan dan perkembangan fisik, motorik, sosial-emosional, kognitif,
moral, dan bahasa terjadi begitu pesat, karena itulah diperlukan stimulasi yang
tepat dan diberikan sejak usia dini. Salah satu aspek perkembangan yang perlu
dikembangkan adalah kognitif, suatu proses berpikir yaitu berupa kemampuan
untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan sesuatu. Menurut Piaget
Slamet Suyanto, 2005: 53), perkembangan kognitif anak pada umumnya memiliki
fase (tahapan) yang sama yaitu melalui empat tahap dimulai dari tahap sensori
motor, praoperasional, konkret operasional, dan formal operasional. Anak TK
pada berada dalam tahap pra operasional, anak diberi pengalaman yang konkret
dirasakan langsung oleh anak. Menurut
Bruner
(Slamet Suyanto, 2005: 53), sebaiknya anak yang sedang belajar angka dimulai dari
benda yang nyata sebelum anak mengenal angka. Anak dapat belajar dengan tahapan
enaktif yaitu dengan benda konkret, ikonik dengan gambar dan simbolik dengan
kata atau simbol. Dinyatakan dalam Permendiknas Nomor 58 Tahun 2010, anak usia
4-5 tahun atau Kelompok A, sudah mampu mengetahui konsep banyak sedikit,
membilang banyak benda 1-10, mampu mengenal konsep bilangan, mengenal lambang
bilangan, dan mengenal lambang huruf. Dijelaskan dalam (Sudaryanti, 2006: 7-13)
untuk mengajarkan anak belajar berhitung dapat melalui: (1) anak mampu dalam
membilang, (2) dapat dikenalkan bentuk angka 1-10, (3) anak diajak untuk
mengurutkan angka yang sudah diacak, (4) mengurutkan adalah memasangkan angka
yang ada tersebut dengan bendanya, dan (5) tahapan yang terakhir dalam
mengenalkan angka yaitu menuliskan angka sebagai lambang banyaknya benda.
Melalui bermain maka anak akan merasa terpenuhi kebutuhannya dalambelajar dan
bermaindisekitar lingkungan anak (Sudaryanti, 2006: 6) tentunya bermain yang
dimaksudkan adalah yang mampu untuk menstimulasi perkembangan kognitif anak.
Menurut Retno Pudjiati (2013: 16), bermain adalah pekerjaan anak, dengan
bermian dapat mengembangkan kemampuan anak dengan menyenangkan.
Kenyataan
kondisi yang ada khususnya di RA Wali Songo Kelompok A berdasarkan hasil tes
awal dengan mempergunakan LKA berhitung dan majalah Bintang menunjukkan
rata-rata anak-anak belum mampu ketika diminta menghitung benda-benda yang ada
dalam gambar lalu menuliskan lambang bilangannya dalam lembar LKA. Contohnya
terdapat gambar mobil berjumlah 7 dan anak diminta menghitung jumlah gambar
mobil kemudian menuliskan angkanya dilembar kertas, ternyata antara jumlah
gambar mobil dan angka yang dituliskan dikertas masih salah. Selain itu media
yang digunakan kurang menarik karena banyak mempergunakan LKA pada majalah.
Kegiatan awal adalah melakukan observasi di luar kelas pada tanggal 11-12
Agustus 2014 dan tanggal 13-14 Agustus 2014. Pada gambar 1 ditampilkan hasil
dari penilaian saat pratindakan.
Dari data
disimpulkan bahwa kemampuan mengenal angka sebagai lambang banyaknya benda
sebelum diberikan tindakan masih yaituterlihat dari gambar kemampuan berhitung
anak yang berada dalam kriteria baik yaitu nilainya 7,13, untuk kemampuan
mengenl angka anak berada pada kriteria cukup dengan nilai 6,39, kemampuan
menulis di udara berada pada kriteria kurang dengan nilai 5,17, kemampuan
menebalkan berada pada kriteria cukup dengan nilai 6,21, dan kemampuan menulis
berada pada kriteria kurang dengan nilai 4,82. Berdasarkan paparan yang telah tertulis
di atas, maka peneliti memberikan solusi melakukan Penelitian Tindakan
Kelas,diambillah judul penelitian “Peningkatkan Kemampuan Mengenal Angka 1-10
sebagai Lambang Banyaknya Benda Pada Anak Kelompok A Melalui Alam di RA Wali
Songo”.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang
penulis gunakan adalah metode penelitian kualitatif deskritif. Menurut
suharsimi arikunto (2002:117), penelitian ini disebut dengan penelitian yang apa adanya dalam
situasi normal yang tidak memanipulasi keadaan atau kondisi. Sedangkan deskriftif
adalah upaya menginterprestasikan kondisi yang sekarang atau terjadi dengan
kata lain untuk memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini. Penelitian
kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang menjawab pertanyaan apa dengan
penjelasan yang lebih terperinci mengenai gejala seperti yang dimaksudkan dalam
suatu permasalahan penelitian yang bersangkutan. Selain itu, pengertian
deskriftif adalah upaya menginterprestasikan kondisi yang terjadi dengan tujuan
memperoleh informasi mengenai objek penelitian.
Selain pendapat diatas,
menurut Sukmadinata (2009:78)
dasar
penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa
kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman
sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Peneliti
kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat
ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya
dengan situasi sosial mereka.
Menurut Sugiono (2010:82), penelitian
kualitatif juga mengkaji perspektif partisipan dengan
strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif
ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang
partisipan. Dengan demikian arti atau pengertian
penelitian kualitatif tersebut adalah penelitian
yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti
merupakan instrumen kunci. Dalam hal ini, berkaitan dengan meningkatkan kemampuan mengenal angka
1-10 sebagai lambang banyaknya benda melalui media benda alam pada anak
kelompok A RA Wali Songo Jati Gunting. Kemudian penelitian ini termasuk kedalam
jenis penelitian yang meneliti terhadap problem dengan mengikuti prosedur yang
telah dispesifikasikan sebelumnya.
a.
Jenis Penelitian
Secara umum metode penelitian
diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan
tertentu. Karena fokus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran di
lapangan tentang bagaimana meningkatkan kemampuan mengenal angka 1-10 sebagai
lambang banyaknya benda melalui media benda alam pada anak kelompok A RA Wali
Songo Jati Gunting, maka penelitian ini menggunakan analisis diskriptif dengan
pendekatan kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah
penelitian yang menggunakan format deskriptif berupa kata-kata tertulis atau
uraian dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Metode penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondidi obyek yang alamiah (sebagai lawannya
adalah eksperimen) dimana penelitian adalah sebagai instrument kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik
pengumpulan dengan gabungan, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan
hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Sedangkan menurut John W. Creswell yang dikutip oleh Hamid Patilima, penelitian
kualitatif adalah: “sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial
berdasarkan pada penciptaan gambar holistic yang dibentuk dengan kata-kata,
melaporkan pandangan infornan secara terperinci dan disusun dalam sebuah latar
ilmiah”. Selanjutnya Bogdan dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif
adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati.
b. Sifat Penelitian
Fokus penelitian ini konsepsi
penelitian deskriptif, peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang
menjadi pusat perhatian untuk digambarkan atau dilukiskan apa adanya. Peristiwa
dan kejadian yang dimaksud adalah perilaku dan tindakan guru-guru di
kelompok A di RA Wali Songo
Jati Gunting untuk meningkatkan kemampuan mengenal angka
1-10 sebagai lambang banyaknya benda melalui media benda alam pada anak.
Kemudian penelitian ini menggambarkan kondisi di lapangan tentang fokus penelitian yang diteliti dalam
penelitian ini. Jelasnya penelitian ini menggambarkan sebuah fenomena dan
kondisi yang ada di RA Wali
Songo Jati Gunting tersebut.
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat
dan waktu penelitian ini dilakukan oleh siswa-siswi RA Wali Songo pada tanggal
1 Januari sampai 17 Maret 2020
Dalam penelitian ini subyek yang diambil
adalah anak kelompok B di RA Wali Songo dengan jumlah
anak 15
anak.
Penulis akan mencoba menguraikan dan memaparkan tehnik
dan cara mengumpulkan data atau tehnik pengumpulan data. Cara-cara mengumpulkan
data data penelitian itu adalah sebagai berikut :
1.
Metode Observasi
Metode observasi ini merupakan pengamatan langsung
terhadap fenomena- fenomena obyek yang diteliti secara obyektif dari hasilnya
akan dicatat secara sistematis agar diperoleh gambaran yang lebih konkrit dan
kondisi di lapangan. Sebagaimana pendapat yang menyatakan bahwa "observasi
biasa diartikan sebagai pengamatan dana pencatatan dengan sistematik
fenomena-fenomena yang diselidiki”.
Metode Observasi adalah
metode pengumpulan data secara sistematis
melalui pengamatan dan pencatatan terhadap fenomena yang diteliti.
Tujuan dilakukan metode observasi
ini adalah untuk
memperoleh data-data dari
RA Wali Songo Jati Gunting tentang hal-hal yang berkaitan dengan meningkatkan
kemampuan mengenal angka 1 sampai 10
yaitu dengan mengamati
bagaimana tehnik meningkatkan kemampuan mengenal angka 1-10
sebagai lambang banyaknya benda melalui media benda alam pada anak kelompok A
RA Wali Songo Jati Gunting.
Menurut Kusumah dalam bukunya, ia
menjelaskan beberapa tahapan observasi yang perlu dilaksanakan dalam
penelitian ini. Yaitu sebagai berikut :
a.
Tahap Deskriptif yaitu memasuki objek dan memperhatikan aktifitas yang diteliti
b.
Tahap Raduksi yaitu menentukan fokus dari objek yang telah dideskripsikan
c.
Tahap Seleksi yaitu mengurai fokus menjadi komponen yang lebih rinci.
Maka, setelah
memasuki objek penelitian, peneliti memperhatikan kegiatan kependidikan yang
terjadi. Setelah itu ditentukan fokus dari objek yang telah diperhatikan.
Sebelum mengambil kesimpulan, peneliti menguraikan meningkatkan kemampuan
mengenal angka 1-10 sebagai lambang
banyaknya benda melalui media benda alam pada anak kelompok A RA Wali Songo
Jati Gunting ini sebagai
komponen yang lebih detail dan terperinci.
2.
Metode Wawancara
Metode wawancara adalah
metode wawancara yang dilakukan secara terstruktur yang dapat dilakukan melalui
tatap muka atau dengan alat. Tujuan wawancara ini untuk memperoleh data dengan
jalan mengadakan percakapan dengan nara sumber atau responden. Metode wawancara
ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut :
a.
Wawancara
bebas terpimpin adalah kombinasi keduanya, pewawancara hanya membuat
pokok-pokok masalah yang akan diteliti dengan objeknya adalah kepala sekolah.
Selanjutnya dalam proses wawancara
berlangsung mengikuti situasi.
b.
Wawancara
terpimpin adalah wawancara yang menggunakan pokok- pokok masalah yang diteliti.
Objeknya adalah guru-guru terkait dengan penelitian.
c.
Wawancara tak
terpimpin (bebas) adalah proses wawancara dimana pewawancara tidak sengaja
mengarahkan tanya jawab pada pokok- pokok dari fokus penelitian.
Maka, dalam penelitian ini,
penulis akan menggunakan wawancara bebas terpimpin, artinya peneliti memberikan
kebebasan kepada objek wawancara untuk memberikan jawaban dan tanggapannya
sendiri. Penulis menggunakan cara ini karena untuk mendapatkan data yang relevan
dan juga tidak menginginkan adanya kekakuan antara penulis sebagai pewawancara
dengan objek wawancara.
Adapun cara melaksanakan
kegiatan wawancara ini adalah sebagai berikut:
1.
Adakan pembicaraan pemanasan: dengan menanyakan biodata responden (nama,
alamat, hobi dll), namun waktunya jangan terlalu lama (±5 menit).
2.
Kemukakan tujuan diadakannya penelitian, dengan maksud agar responden
memahami pembahasan topik yang akan ditanyakan dan supaya lebih transparan
kepada responden (adanya kejujuran).
3.
Timbulkan suasana bebas: maksudnya responden boleh melakukan aktifitas yang
lain ketika sesi wawancara ini berlangsung sehingga memberikan rasa “nyaman”
bagi responden (tidak adanya tekanan), misalnya responden boleh merokok, minum
kopi/teh, makan dan lain-lain.
4.
Timbulkan perasaan bahwa ia (responden) adalah orang yang penting,
kerjasama dan bantuannya sangat diperlukan: bahwa pendapat yang responden
berikan akan dijaga kerahasiannya dan tidak ada jawaban yang salah atau benar
dalam wawancara ini. Semua pendapat yang responden kemukakan
sangat penting untuk pelaksanaan penelitian ini.
5.
Menggali
keterangan yang lebih mendalam dengan pertanyaan yang telah disiapkan.
6.
Tidak memberikan
sugesti untuk memberikan jawaban-jawaban tertentu kepada responden yang
akhirnya nanti apa yang dikemukakan (pendapat) responden bukan merupakan
pendapat dari responden itu sendiri.
Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan teknik analisis data yang bersifat deskriptif-kualitatif, yaitu
mendeskripsikan data yang diperoleh melalui instrument penelitian. Bodgan dan
Biklen adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengolah
data yang sudah didapat, memilah-milah dan disesuaikan dengan bahasan,
mensintesisnya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa
yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain53.
Penelitian ini menggunakan metode Interaktif Langkah-langkah analisis data
menurut Miles dan Huberman sebagaimana dikutip oleh Patilima adalah
Langkah-langkah yang diambil dalam analisis data yaitu sebagai berikut :
1.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah
proses seleksi, pemfokusan, pengabstrakan, trans- formasi data kasar yang ada
di lapangan langsung, dan diteruskan pada waktu pengumpulan data. Data
diperoleh berbagai jenis, jaringan kerja, keterkaitan kegiatan atau tabel Reduksi
data bukanlah hal yang terpisah dari observasi dan analisa data di lapangan.
2.
Penyajian Data
Penyajian data disini
dibatasi sebagai penyajian sekumpulan informasi tersusun yang memberi
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam
penyajian data diuraikan seluruh konsep yang ada hubungannya dengan pembahasan
penelitian. Oleh karena itu, semua data-data di lapangan yang berupa dokumen,
hasil wawancara, hasi observasi dan lain-lain akan dianalisis sehingga
memunculkan deskripsi dan pada akhirnya dapat menjelaskan adanya permasalahan.
a. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan
merupakan kegiatan penggambaran yang utuh dari obyek yang diteliti atau
konfigurasi yang utuh dari obyek penelitian. Prosedur penarikan kesimpulan
didasarkan pada gambaran informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang
terpadu pada penyajian data melalui transformasi tersebut, penulis dapat
melihat apa yang ditelitinya dan menentukan kesimpulan yang benar mengenai
obyek penelitian. Kesimpulan-kesimpulan yang diverifikasi selama penelitian
berlangsung. Verifikasi atau penarikan kesimpulan ini mungkin sesingkat
pemikiran kembali yang melintas pikiran peneliti selama menulis dan merupakan
suatu tinjauan ulang pada observasi.
Pada tahap sebelumnya,
verifikasi juga dilakukan untuk memeriksa keabsahan data. Kemudian data yang
diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi terutama data yang
berkaitan dengan kemampuan mengenal angka 1-10 bagi anak dengan proses melalui
keempat aktivitas analisis di atas dan dicek berulang-ulang agar menghasilkan
kesimpulan akhir yang tepat dan fakta.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan
dalam 3 minggu, yaitu pengamatan awal, minggu I, minggu II dan minggu III.
Maisng-masing minggu dimulai dari perencanaan, tindakan dan pengamatan serta
refleksi. Dari peneltian tersebut terjadi peningkatan kemampuan mengenal angka
melalui media benda alam. Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan
mengenal angka 1-10 oleh peneliti yaitu dengan media benda-benda alam. Peneliti
memilih media alam sesuai dengan pendapat dari Piaget yaitu anak dalam proses
belajarnya melalui empat tahapan dan anak Kelompok A pada saat ini memasuki
masa praoperasional. Pada penelitian ini kemampuan mengenal angka terdiri dari
anak dapat berhitung 1-10, anak dapat mengenal angka 1-10, anak dapat menulis
angka 1-10 di udara, anak dapat menebalkan angka 1-10, dan anak dapat menulis
angka 1-10.
Berdasarkan hasil observasi
dari pengamatan awal sampai dengan minggu III terjadi peningkatan. Pada
observasi minggu I terlihat kemampuan anak masih kurang dalam mengenal angka
1-10. Anak kurang berminat dalam mengikuti kegiatan dikelas atau diluar kelas
yang diberikan untuk mengenal angka 1-10.Guru kurang optimal dalam menstimulasi
kemampuan mengenal angka pada anak-anak di Kelompok A RA Wali Songo. Hal
tersebut dikarenakan metode yang dilakukan oleh guru dalam menstimulasi
kemampuan mengenal angka pada anak kurang bervariasi sehingga minat anak
berkurang dan pesan pembelajaran tidak dapat diterima anak secara optimal.
Melihat kenyataan dan kondisi anak di lapangan dan mengarah pada teori Bruner bahwa anak dalam belajar
matematika dengan tahapan enaktif yaitu mengambil benda lalu menghitungnya,
tahap ikonik yaitu melihat bentuknya secara langsung dan terakhir tahap
simbolik yaitu mengenalkan angkanya kepada anak-anak, maka peneliti
merencanakan untuk memberi tindakan kelas.
Adapun tindakan yang
diberikan untuk mengenal angka 1-10 melalui media benda-benda alam pada anak di
Kelompok A RA Wali Songo dilakukan menggunakan selama 3 minggu. Pada minggu II
menggunakan desain kegiatan mengenal angka yang dilakukan anak secara individu
sudah terjadi peningkatan, dan minggu III dengan perlombaan.
Minggu II, penelitian
berjalan lancar. Anak merasa senang saat melakukan kegiatan bermain dengan
benda-benda alam seperti batu, daun, biji-bijian, dan kerang. Menurut Dienes
dalam Resnik 1981 (T. Wakiman, 2001: 120) perkembangan konsep matematika dapat
dicapai melalui pola berkelanjutan yaitu belajarnya dari yang konkret ke
simbolik. Jadi anak akan lebih mudah dalam belajar matematika dengan
mempergunakan benda konkret melalui metode yang bervariasi dengan prinsip
belajar sambil bermain karena sesuai tahapan anak yaitu masa pra operasional.
Sesuai dengan pendapat
tersebut penelitian pada minggu II menggunakan benda alam, namun yang paling
disukai anak adalah saat bermain dengan menggunakan kerang laut. Sesuai dengan pendapat dari (Sudaryanti, 2008:
8-13) kegiatan untuk mengenal angka 1-10 pada penelitian minggu II diawali
dengan anak diajak untuk berhitung 1-10 terlebih dahulu. Setelah dapat
berhitung anak dikenalkan pada angka 1-10, dilanjutkan belajar menulis angka di
udara, dan menebalkan angka 1-10. Kegiatan yang terakhir yaitu melengkapi angka
1-10 dengan menuliskan angka yang belum ada pada LKA. Anak setelah belajar
melalui lima tahapan yang disebutkan di atas mengalami peningkatan dalam
mengenal angka sebagai lambang banyaknya benda.
Pada minggu II ini sudah
terdapat beberapa peningkatan yang terjadi, namun masih ada anak yang belum
terjadi perubahan. Oleh karena itu peneliti melanjutkan merencanakan minggu
III. Minggu II ini menghadapi kendala seperti anak yang belum siap untuk diajak
belajar sehingga tidak paham dengan apa yang
harus dilakukan saat bermain. Selain itu saat diberikan media seperti
daun, batu hitam, dan biji-bijian ada beberapa anak terlihat kurang tertarik.
Pada minggu III Kegiatan inti, anak menyebutkan tentang macam makanan kesukaannya.
Setelah itu, anak mendengarkan cerita guru apa yang harus dilakukan pada
kegiatan hari ini. Pemberian tugas untuk hari ini adalah menghitung kerang
sesuai bentuknya lalu dimasukkan ke dalam mangkok yang berbeda, mengambil angka
sesuai perintah guru, menuliskan angka pada LKA, dan memasukkan biji ke dalam
plastik sesuai angkanya. Kegiatan akhir, mencoba macam-macam rasa makanan seperti
manis, asam, dan asin. Kegiatan hari ini diakhiri menyebutkan makanan yan guru
perlihatkan, dilanjutkan tanya kawab kegiatan hari ini, pesan, kesan, doa, dan salam.
Kegiatan awal, guru mengawali
pembelajaran dengan baris dihalaman anak diajak menendang bola ke arah depan
sambil berhitung. Anak diajak cuci tangan masuk berdoa, salam, presensi, dan
hafalan. Kegiatan inti, anak mendengarkan cerita guru tentang macam-macam
warna. Anak menirukan kata- kata yang ditulis guru dipapan tulis. Setelah itu,
anak menghitung warna yang ditunjukkan guru kemudian melingkari bilangan sesuai
dengan jumlahnya. Kegiatan anak lainnya adalah mengelompokkan kerang lalu
dihitung, mengambil angka sesuai kertas warnanya yang diperintahkan guru,
membuat angka 1-10 dengan finger painting, serta memasukkan kerang putih ke
dalam plastik sesuai angka yang ditempel.
Pertemuan terakhir minggu III
guru mengawali pembelajaran dengan mengajak anak lari ditempat dihalaman sambil
berhitung, setelah itu anak ke kelas berdoa, salam, presensi, dan dilanjutkan
dengan menghafalkan surat, doa, asmaul husna, nama surat, dan lainnya. Setelah
itu, anak demonstrasi berbicara sopan
pada teman dan dilanjutkan melakukan kegiatan apersepsi di dalam kelas.
Berikutnya guru memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan pada
hari ini yaitu bercerita tentang aku rajin belajar dan menulis. Kegiatan inti,
anak diajak untuk menujukkan urutan kerang, menmgambil angka, menulis angka ,
dan mengisi mangkok dengan kerang sesuai angkanya.
Kegiatan akhir, anak
mendengarkan cerita guru tentang alat musik perkusi lalu anak diajak membuatnya
secara sederhana denga mengisi botol menggunakan biji-bijian lalu digunakan
untuk bernyanyi bersama. Selanjutnya, anak diajak tanya jawab tentang
pembelajaran hari ini dan menyampaikan pesan dan kesannya hari ini. Kegiatan
diakhiri dengan doa dan salam.
Tabel
2 Pencapaian Peningkatan Mengenal Angka 1-10
|
No. |
Nama |
Nilai |
Jumlah |
|||
|
A |
B |
C |
D |
|||
|
1. |
Misbahus Sudur |
4 |
4 |
4 |
4 |
16 |
|
2. |
Wafi Abdul Muiz |
3 |
3 |
3 |
4 |
13 |
|
3. |
Ahmad Sobihul Asrori |
4 |
4 |
4 |
4 |
16 |
|
4. |
M. Dliyauddin |
2 |
3 |
3 |
4 |
12 |
|
5. |
M. Hasan Agis Al Ayyubi |
2 |
3 |
4 |
4 |
13 |
|
6. |
M. Bima Ramadhani |
2 |
3 |
4 |
4 |
13 |
|
7. |
Moch. Khoirul Adam |
1 |
2 |
4 |
3 |
10 |
|
8. |
M. Fajar Wahyudi |
2 |
2 |
4 |
4 |
12 |
|
9. |
Juilia Arifatuz Zamani |
2 |
2 |
1 |
4 |
9 |
|
10. |
Nur Safiratus Sa'adah |
2 |
2 |
4 |
4 |
12 |
|
11. |
Nur Laili Ramadhani |
2 |
2 |
3 |
3 |
10 |
|
12. |
Fina Auliatul Musyfiqoh |
3 |
2 |
4 |
4 |
13 |
|
13. |
Aisya Syifa Alinarrohman |
3 |
1 |
4 |
4 |
12 |
|
14. |
M. Abd
Rahman Hadi |
1 |
2 |
3 |
4 |
10 |
|
15. |
M. Hijamin |
2 |
2 |
4 |
4 |
12 |
Keterangan:
A.
Anak dapat
menyebutkan lambang bilangan1-10
B. Anak
dapat mengenal konsep banyak sedikit
C. Anak
dapat mengenal benda berdasarkan warna,
tekstur,dan fungsinya
D.
Anak dapat
menggunakan lambang bilangan untuk menghitung

Keterangan: Kemampuan mengenal angka 1-10 melalui media benda alam
Sangat Baik : SB
Baik : B
Belum Baik : BB
Kurang Baik : KB
SIMPULAN
DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa bermain dengan media benda-benda
alam dapat meningkatkan kemampuan mengenal angka 1-10 melalui media benda alam khususnya
di Kelompok A RA Wali Songo.
Cara mengenalkan angka 1-10 melalui
media benda-benda alam adalah (1) anak belajar berhitung 1-10 dengan
mempergunakan berbagai media alam seperti daun, batu, biji dan kerang. (2) anak belajar mengenal angka 1-10 dengan
mempergunakan angka yang dipersiapkan guru. (3) anak belajar menulis angka 1-10
di udara dengan menirukan gerakan yang guru ajarkan. (4) anak belajar
menebalkan angka pada lembar LKA yang dipersiapkan, dan tahap (5) anak
melengkapi untuk menulis angka pada lembar LKA yang juga sudah dipersiapkan
oleh guru. Media yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam
mengenal angka lebih efektif dengan menggunakan benda alam yang jarang anak
lihat seperti kerang, batu putih, biji-bijian dan daun. Karena benda-benda
tersebut bagi anak menarik dan nyata untuk digunakan ketika bermain.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti
mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan
kemampuan kognitif anak, dapat memanfaatkan benda-benda alam yang ada disekitar
anak yaitu benda-benda yang menarik, dan lebih utama lagi belum pernah dilihat anak.
2. Guru sebaiknya tidak
terlalu sering mempergunakan majalah sebagai sarana pembelajaran karena membuat
anak jenuh sehingga tidak tertarik..
3. Bagi anak akan lebih baik
difasilitasi media bermain yang berupa benda- benda konkret sehingga anak dapat
mengingat pembelajaran yang didapat.
4. Bagi guru perlu
memodivikasi dalam mensetting kegiatan kelas sehingga anak memiliki
ketertarikan dan rasa ingin tahu untuk belajar.
DAFTAR
RUJUKAN
Rahmadini Pohan. (2012). Interprestasi Nilai Evaluasi Menilai (PAN
& PAP). Diakses dari http:// rahmadanypohan.blogspot.com pada tanggal 22
April 2015. Jam 01.30 WIB.
Retno Pudjiati. (2013). Bermain Bagi AUD. Jakarta: Direktorat
Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia
Dini Non formal dan Informal. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2013.
Slamet Suyanto. (2005). Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Yogyakarta: Hikayat.
Slamet Suyanto. (2005) b. Pembelajaran untuk Anak TK. Jakarta:
Depertemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan
Tinggi.
Sudaryanti. (2006). Pengenalan Matematika Anak Usia Dini.
Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
Suharsimi Arikunto. (2005). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT
Bumi Aksara. Tatang M Amirin . (2009). Penelitian Tindakan Kelas (Langkah
Awal). Diaksesdarihttp://www.tatangmanguny.word press.compada tanggal 11
September 2013, Jam 13.45 WIB. Zainal Arifin. (2011). Penelitian Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Komentar
Posting Komentar