Artikel MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN GOBAK SODOR ANAK KELOMPOK B DI RA WALI SONGO JATI GUNTING
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN GOBAK SODOR ANAK KELOMPOK B DI RA WALI SONGO JATI GUNTING
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan motorik kasar permainan gobak sodor
pada anak kelompok B RA Wali Songo. Penelitian ini dilakukan karena terdapat
permasalahan dalam kemampuan motorik kasar pada anak Kelompok B RA Wali Songo.
Penelitian ini merupakan penelittian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini
adalah anak-anak kelompok B RA Wali Songo yang berjumlah 13 anak yang terdiri
dari 7 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Objek penelitian adalah kelincahan
gerak anak. Tindakan yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu observasi dan
dokumentasi. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa melalui permainan gobak sodor dapat meningkatkan kemampuan
motorik kasar anak. Peningkatan dapat dilihat pada hasil penelitian kondisi
awal kelincahan gerak melintasi 5 buah rintangan. Hasil penelitian menunjukan
bahwa pada awal kemampuan anak saat beramain gobak sodor atau anak yang aktif
menghindari lawan berjumlah 5 anak, pada minggu I meningkat menjadi 6 anak,
pada minggu II meningkat menjadi 12 anak dan pada minggu III meningkat menjadi
13 anak.
KataKunci: Permainan gobak sodor, Kemampuan
motorik kasar
ABSTRACT
This study aims to develop gross motor
skills of playing gobak sodor in group B children RA Wali Songo. This research
was conducted because there were problems in gross motor skills in Group B
children RA Wali Songo. This research is a qualitative research. The subjects
in this study were 13 children of Group B RA Wali Songo, consisting of 7 boys
and 6 girls. The object of research is the children's movement agility. Actions
used to collect data are observation and documentation. Data analysis using
descriptive qualitative. The results showed that playing gobak Sodor could
improve children's gross motor skills. The improvement can be seen in the
results of the research on the initial conditions of moving agility across 5
obstacles. The results showed that at the beginning the ability of children to
play gobak sodor or children who actively avoided opponents amounted to 5
children, at week I increased to 6 children, at week II increased to 12
children and at week III increased to 13 children.
Keywords: Hobak Sodor game, gross motor skills
I.
pendahuluan
Menurut
Direktorat PAUD (Martinis Yamin dkk, 2013: 1)
pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pendidikan yang paling
mendasar dan menempati kedudukan sebagai golden age dan sangat strategis dalam
pengembangan sumber daya manusia. Pendidikan anak usia dini suatu upaya
pemberian yang ditujukan bagi anak usia dini yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan
rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Penyelenggaraan
pendidikan anak usia dini dapat berlangsung secara formal kelembagaan, non
formal maupun informal. Tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini
adalah untuk mencerdaskan anak Indonesia supaya berkualitas, yaitu anak yang
tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga anak
memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar dan kesiapan
untuk menghadapi kehidupan di masa dewasa.
Proses
tumbuh kembang anak mengalami beberapa tahapan yang sama walaupun setiap anak
dalam menjalani kegiatan berbeda-beda dengan tahap perkembangannya. Setiap anak
adalah peribadi yang unik. Karena setiap anak memiliki pribadi yang
berbeda-beda walaupun anak itu bersaudara, bahkan anak kembar sekalipun. Setiap
anak akan memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam menjalani proses tumbuh
kembangnya. Pada masa ini, anak mengalami proses tumbuh kembang yang luar
biasa, baik dari segi fisik motorik, emosi, kognitif, maupun psikososial.
Perkembangan anak itu berlangsung secara menyeluruh, karena itu aspek
perkembangan tersebut perlu distimulasi dengan tepat agar anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal. Anak yang kurang terstimulasi akan mengalami
hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya serta kesulitan dalam
berinteraksi dengan orang lain. Selain itu pemberian stimulasi yang kurang
seimbang juga dapat mengakibatkan anak berpotensi disalah satu perkembangannya saja.
Pengembangan
dan pembinaan keterampilan motorik kasar sangat diperlukan karena hal tersebut
merupakan perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh anak
yang diperlukan bagi pertumbuhan kehidupan anak. Gerakan motorik kasar
merupakan gerakan yang membutuhkan adanya koordinasi dari sebagian besar pada
anggota tubuh anak. Perkembangan motorik kasar meliputi kemampuan berjalan,
lari, lompat, kemudian melempar. Menurut Hurlock (Rosmala Dewi, 2005: 2)
menyatakan perkembangan motorik berarti pengendalian gerakan jasmaniah melalui
kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi.
Kemampuan
motorik kasar merupakan salah satu kompetensi motorik yang terkandung dalam motorik
kasar anak. Kemampuan motorik kasar tubuh anak akan turut menentukan
perkembangan anak agar mandapatkan hasil yang optimal, dibutuhkan adanya
stimulasi yang tepat dari orang tua anak yang berada di rumah, dan guru ketika
anak berada di sekolah.
Kegiatan
yang dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar tubuh anak kelompok B di RA
Wali Songo Jati Gunting belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah kegiatan
yang untuk mengembangkan kemampuan motorik kasar tubuh anak masih jarang
dilaksanakan, sehingga anak kurang terstimulasi dalam mengembangkan kemampuan
motorik kasarnya. Banyak sekali kegiatan- kegiatan pembelajaran yang dapat
mengembangkan kemampuan motorik kasar anak, salah satunya melalui permainan gobak
sodor.
Kemampuan
motorik kasar anak sangat diperlukan untuk menguasai gerakan motorik kasar.
Tubuh perlu dilatih agar indera-indera terstimulasi untuk membantu pengembangan
kemampuan motorik kasar pada anak. Kemampuan motorik kasar anak sangat penting
bagi anak usia dini. Anak yang tidak mampu bergerak secara optimal akan
kesulitan berkonsentrasi, dan dampaknya anak akan merasa minder dalam
melaksanakan kegiatan.
Berdasarkan
kenyataan yang ada dikelompok B RA Wali Songo Jati Gunting dalam kemampuan
motorik kasar pada anak belum berkembang secara optimal. Hal ini dapat dilihat
pada saat melakukan kegiatan motorik kasar, yaitu: kegiatan naik turun kursi,
anak-anak terlihat kelelahan dan terdapat beberapa anak yang kurang mampu dalam
menaiki kursi dan ketika turun dari kursi. Pada saat melakukan kegiatan
melintasi 5 buah rintangan juga terdapat beberapa anak dalam berlari sangat
lambat, terdapat beberapa anak kesulitan membelok-belokan badannya secara
lentur dalam melintasi rintangan. Pada survey data awal anak yang dilakukan
peneliti sering dijumpai, anak-anak sering merasa kelelahan, kelelahan hal ini disebabkan
karena anak kurang terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
motorik kasar. Selain itu stimulasi yang diberikan juga kurang sesuai, kegiatan
pembelajaran yang disajikan kurang
memasukan kegiatan yang berhubungan dengan unsur permainan. Kegiatan
pembelajaran dilakukan masih monoton, yaitu hanya kegiatan motorik halusnya
saja sehingga tidak seimbang antara motorik kasar dan halusnya.
Guru
seharusnya dapat merangsang minat anak agar dapat melakukan gerak dan kemampuan
motorik kasar, yang akan mendukung perkembangan kemampuan fisik anak. Kegiatan
pembelajaran akan mencapai hasil yang optimal apabila guru dapat memilih
kegiatan yang tepat, kemudian melaksanakannya dengan teknik yang baik dan
menarik bagi anak. Dalam mengembangkan kemampuan fisik tubuh anak, guru dapat
memulainya dengan hal yang dekat pada diri anak.
Dunia anak
adalah dunia bermain karena bermain merupakan salah satu yang dekat dengan
anak. Oleh sebab itu, stimulasi yang diberikan sebaiknya disesuiakan dengan
dunia anak, yaitu dengan permainan-permainan yang menarik bagi anak. Permainan
yang menarik tidak terbatas dengan permainan moderen dengan bermain gobak sodor
juga dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan
fisik motorik anak. Permainan gobak sodor merupakan permainan yang dilakukan
oleh sekelompok anak dengan cara pemain kelompok pemeran diperbolehkan bergerak
dan berputar bebas mengecoh lawan untuk mencapai tujuan pada bilik akhir dan
kembali ke bilik pangkal.
Keunggulan
permainan gobak sodor yaitu menarik dan menyenangkan. Menarik karena permainan gobak
sodor mudah dilaksanakan, disitu anak bisa merasakan ketegangan karena anak
dapat belajar rasa kebersamaan terhadap teman sekelompok, selain itu juga
permainan gobak sodor dapat menstimulasi aspek motorik kasar karena dengan
bermain gobak sodor untuk melatih ketangkasan dan kelincahan. Menyenangkan
karena kegiatannya berupa permainan sehingga anak tidak merasa bosan untuk bermain.
Dengan
bermain gobak sodor diharapkan dapat mengembangkan kemampuan fisik motorik
kasar pada anak. Oleh karena itu, peneliti berusaha melakukan penelitian dengan
judul “Mengembangkan Kemampuan Motorik Kasar Melalui Permainan gobak sodor Pada
Anak Kelompok B RA Wali Songo Jati Gunting”.
METODE PENELITIAN
Secara umum metode penelitian diartikan
sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Karena fokus
penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran di lapangan tentang
bagaimana mengembangkan kemampuan motorik kasar melalui permainan gobak sodor pada anak kelompok B RA Wali
Songo Jati Gunting, maka penelitian ini menggunakan analisis diskriptif dengan
pendekatan kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian
yang menggunakan format deskriptif berupa kata-kata tertulis atau uraian dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Metode penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondidi obyek yang alamiah (sebagai lawannya
adalah eksperimen) dimana penelitian adalah sebagai instrument kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik
pengumpulan dengan gabungan, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan
hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.42
Sedangkan menurut John W. Creswell yang dikutip oleh Hamid Patilima, penelitian
kualitatif adalah: “sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial
berdasarkan pada penciptaan gambar holistic yang dibentuk dengan kata-kata,
melaporkan pandangan infornan secara terperinci dan disusun dalam sebuah latar
ilmiah”. Selanjutnya Bogdan dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif
adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati.
Fokus penelitian ini konsepsi penelitian
deskriptif, peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi
pusat perhatian untuk digambarkan atau dilukiskan apa adanya. Peristiwa dan
kejadian yang dimaksud adalah perilaku dan tindakan guru-guru di
kelompok B di RA Wali Songo
Jati Gunting untuk mengembangkan kemampuan motorik
kasar melalui permainan gobak sodor.
Kemudian penelitian ini menggambarkan kondisi di lapangan tentang fokus penelitian yang diteliti dalam
penelitian ini. Jelasnya penelitian ini menggambarkan sebuah fenomena dan
kondisi yang ada di RA Wali
Songo Jati Gunting tersebut.
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat
dan waktu penelitian ini dilakukan oleh siswa-siswi RA Wali Songo pada tanggal
1 Januari sampai 17 Maret 2020
Dalam penelitian ini subyek yang diambil
adalah anak kelompok B di RA Wali Songo dengan jumlah
anak 15
anak.
Penulis
akan mencoba menguraikan dan memaparkan tehnik dan cara mengumpulkan data atau
tehnik pengumpulan data. Cara-cara mengumpulkan data data penelitian itu adalah
sebagai berikut :
1.
Metode Observasi
Metode observasi ini merupakan pengamatan
langsung terhadap fenomena- fenomena obyek yang diteliti secara obyektif dari
hasilnya akan dicatat secara sistematis agar diperoleh gambaran yang lebih
konkrit dan kondisi di lapangan. Sebagaimana pendapat yang menyatakan bahwa
"observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dana pencatatan dengan
sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki”.
Metode
Observasi adalah metode pengumpulan data secara sistematis melalui pengamatan dan pencatatan terhadap
fenomena yang diteliti. Tujuan dilakukan
metode observasi ini
adalah untuk memperoleh
data-data dari RA Wali Songo Jati Gunting tentang hal-hal
yang berkaitan dengan mengembangkan kemampuan motorik kasar melalui permainan
gobak sodor pada anak yaitu dengan mengamati
bagaimana tehnik mengembangkan kemampuan motorik kasar melalui permainan
gobak sodor pada anak didik di RA Wali Songo Jati Gunting. Menurut Kusumah
dalam bukunya, ia menjelaskan beberapa
tahapan observasi yang perlu dilaksanakan dalam penelitian ini. Yaitu sebagai
berikut :
a.
Tahap Deskriptif yaitu memasuki objek dan memperhatikan aktifitas yang diteliti
b.
Tahap Raduksi yaitu menentukan fokus dari objek yang telah dideskripsikan
c.
Tahap Seleksi yaitu mengurai fokus menjadi komponen yang lebih rinci.
Maka, setelah memasuki objek penelitian, peneliti memperhatikan
kegiatan kependidikan yang terjadi. Setelah itu ditentukan fokus dari objek
yang telah diperhatikan. Sebelum mengambil kesimpulan, peneliti menguraikan
kegiatan mengembangkan kemampuan motorik kasar melalui permainan gobak sodor pada anak RA Wali Songo Jati Gunting ini sebagai komponen yang lebih detail dan terperinci.
2. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah
metode wawancara yang dilakukan secara terstruktur yang dapat dilakukan melalui
tatap muka atau dengan alat. Tujuan wawancara ini untuk memperoleh data dengan
jalan mengadakan percakapan dengan nara sumber atau responden. Metode wawancara
ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut :
a.
Wawancara bebas terpimpin adalah kombinasi
keduanya, pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti
dengan objeknya adalah kepala sekolah. Selanjutnya
dalam proses wawancara berlangsung
mengikuti situasi.
b.
Wawancara
terpimpin adalah wawancara yang menggunakan pokok- pokok masalah yang diteliti.
Objeknya adalah guru-guru terkait dengan penelitian.
c.
Wawancara
tak terpimpin (bebas) adalah proses wawancara dimana pewawancara tidak sengaja
mengarahkan tanya jawab pada pokok- pokok dari fokus penelitian.
Maka, dalam penelitian ini,
penulis akan menggunakan wawancara bebas terpimpin, artinya peneliti memberikan
kebebasan kepada objek wawancara untuk memberikan jawaban dan tanggapannya
sendiri. Penulis menggunakan cara ini karena untuk mendapatkan data yang
relevan dan juga tidak menginginkan adanya kekakuan antara penulis sebagai
pewawancara dengan objek wawancara.
Adapun cara melaksanakan
kegiatan wawancara ini adalah sebagai berikut:
1.
Adakan pembicaraan pemanasan: dengan menanyakan biodata responden (nama,
alamat, hobi dll), namun waktunya jangan terlalu lama (±5 menit).
2.
Kemukakan tujuan diadakannya penelitian, dengan maksud agar responden
memahami pembahasan topik yang akan ditanyakan dan supaya lebih transparan
kepada responden (adanya kejujuran).
3.
Timbulkan suasana bebas: maksudnya responden boleh melakukan aktifitas yang
lain ketika sesi wawancara ini berlangsung sehingga memberikan rasa “nyaman”
bagi responden (tidak adanya tekanan), misalnya responden boleh merokok, minum
kopi/teh, makan dan lain-lain.
4.
Timbulkan perasaan bahwa ia (responden) adalah orang yang penting,
kerjasama dan bantuannya sangat diperlukan: bahwa pendapat yang responden
berikan akan dijaga kerahasiannya dan tidak ada jawaban yang salah atau benar
dalam wawancara ini. Semua pendapat yang responden kemukakan
sangat penting untuk pelaksanaan penelitian ini.
5.
Menggali
keterangan yang lebih mendalam dengan pertanyaan yang telah disiapkan.
6.
Tidak memberikan
sugesti untuk memberikan jawaban-jawaban tertentu kepada responden yang
akhirnya nanti apa yang dikemukakan (pendapat) responden bukan merupakan
pendapat dari responden itu sendiri.
Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data yang bersifat
deskriptif-kualitatif, yaitu mendeskripsikan data yang diperoleh melalui
instrument penelitian. Bodgan dan Biklen adalah upaya yang dilakukan dengan
jalan bekerja dengan data, mengolah data yang sudah didapat, memilah-milah dan
disesuaikan dengan bahasan, mensintesisnya, mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang
dapat diceritakan kepada orang lain. Penelitian ini menggunakan metode
Interaktif Langkah-langkah analisis data menurut Miles dan Huberman sebagaimana
dikutip oleh Patilima adalah Langkah-langkah yang diambil dalam analisis data
yaitu sebagai berikut :
1.
Pengumpulan Data
Pengumpulan
data adalah proses seleksi, pemfokusan, pengabstrakan, trans- formasi data
kasar yang ada di lapangan langsung, dan diteruskan pada waktu pengumpulan
data. Data diperoleh berbagai jenis, jaringan kerja, keterkaitan kegiatan atau
tabel Reduksi data bukanlah hal yang terpisah dari observasi dan analisa data
di lapangan.
2.
Penyajian Data
Penyajian
data disini dibatasi sebagai penyajian sekumpulan informasi tersusun yang
memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam
penyajian data diuraikan seluruh konsep yang ada hubungannya dengan pembahasan
penelitian. Oleh karena itu, semua data-data di lapangan yang berupa dokumen,
hasil wawancara, hasi observasi dan lain-lain akan dianalisis sehingga
memunculkan deskripsi dan pada akhirnya dapat menjelaskan adanya permasalahan.
3.
Penarikan Kesimpulan
Penarikan
kesimpulan merupakan kegiatan penggambaran yang utuh dari obyek yang diteliti
atau konfigurasi yang utuh dari obyek penelitian. Prosedur penarikan kesimpulan
didasarkan pada gambaran informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang
terpadu pada penyajian data melalui transformasi tersebut, penulis dapat
melihat apa yang ditelitinya dan menentukan kesimpulan yang benar mengenai
obyek penelitian. Kesimpulan-kesimpulan yang diverifikasi selama penelitian
berlangsung. Verifikasi atau penarikan kesimpulan ini mungkin sesingkat
pemikiran kembali yang melintas pikiran peneliti selama menulis dan merupakan
suatu tinjauan ulang pada observasi.
Pada
tahap sebelumnya, verifikasi juga dilakukan untuk memeriksa keabsahan data.
Kemudian data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi
terutama data yang berkaitan dengan kemampuan megenal angka 1-10 bagi anak
dengan proses melalui keempat aktivitas analisis di atas dan dicek berulang-ulang
agar menghasilkan kesimpulan akhir yang tepat dan fakta.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengamatan
awal merupakan kegiatan pra tindakan yang dilaksanakan untuk mengetahui keadaan
awal kemampuan motorik kasar anak. Untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar
anak dapat dilakukan melalui permainan gobak sodor, akan tetapi sebelum diberi
tindakan dengan permainan gobak sodor terlebih dahulu anak diberi kegiatan
untuk melintasi 5 buah rintanagan sejauh 20 meter.
Kemampuan
motorik kasar yang di amati oleh peneliti difokuskan pada unsur; kelincahan
anak saat melintasi 5 buah rintangan.

kemampuan motorik kasar anak dalaam unsur kelincahan sebelum dilkukan tindakan di
atas maka dapat diketahui bahwa sebagian besar anak masih menunjukkan kemampuan
motorik kasar dengan unsur kelincahan sangat kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari tabel, untuk keaktifan gerak tubuh dalam
bermain gobak sodor; anak yang aktif berjumlah 2 anak, cukup aktif berjumlah 3
anak , kurang aktif berjumlah 7 anak, anak yang tidak melaksanakan permainan 1
anak. Anak yang memiliki kemampuan kelincahan dengan ketentuan dari 6 kriteria
dengan kriteria anak tidak mau mengikuti berjumlah 1 anak , kurang lincah
berjumlah 7 anak, anak yang lincah 3 anak, dan hanya 2 anak yang memiliki
keriteria baik.
Pengamatan
kedua dilakukan secara kolaborasi dengan teman sejawat. Kegiatan yang diamati
meliputi seluruh aspek yang ada pada instrumen penelitian. Aspek tersebut
meliputi: kelincahan anak dalam melintasi 5 buah rintangan dan keaktifan anak
dalam berusaha menghindari lawan dalam petak.
Hasil
penelitian pada minggu I menunjukkan adanya peningkatan kemampuan motorik anak
dalam aspek yang ada dalam instrumen penelitian.

Berdasarkan
tabel hasil di atas dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan lagi dalam
kemampuan motorik kasar anak. Untuk keaktifan gerak tubuh anak dalam bermain
gobak sodor; anak yang sangat aktif berjumlah 2 anak, aktif berjumlah 4 anak,
kurang aktif berjumlah 6 anak, anak yang tidak mau melaksanakan permainan 1
anak Kelincahan gerak tubuh anak melintasi 5 buah rintangan; anak yang sangat lincah
berjumlah 2 anak, lincah berjumlah 4 anak, kurang lincah berjumlah 6 anak,
belum lincah atau tidak mau melaksanakan permianan berjumlah 1 anak.
Pengamatan
ketiga dilakukan secara kolaborasi dengan teman sejawat. Kegiatan yang diamati
meliputi seluruh aspek yang ada pada instrumen penelitian. Aspek tersebut
meliputi: kelincahan anak dalam melintasi 5 buah rintangan dan keaktifan anak
dalam berusaha menghindari lawan dalam petak.
Hasil penelitian
pada minggu II menunjukkan adanya peningkatan kemampuan motorik kasar anak
dalam aspek yang ada dalam instrumen penelitian.

Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan lagi dalam kemampuan
motorik anak. Untuk keaktifan anak berusaha menghindari lawan; anak yang sangat
aktif berjumlah 9 anak, anak yang hanya aktif berjumlah 3 anak, anak yang kurang
aktif berjumlah 0 anak, anak tidak mau mengikuti 1 anak. Untuk kelincahan anak
saat melintsi 5 buah rintangan sejauh 20 meter; anak yang sangat lincah
berjumlah 9 anak, anak yang hanya lincah berjumlah 3 anak, kurang lincah
berjumlah 0 anak, untuk anak tidak mau mengikuti berjumlah 1 anak.
Pengamatan
ketiga dilakukan secara kolaborasi dengan teman sejawat. Kegiatan yang diamati
meliputi seluruh aspek yang ada pada instrumen penelitian. Aspek tersebut
meliputi: kelincahan anak dalam melintasi 5 buah rintangan dan keaktifan anak
dalam berusaha menghindari lawan dalam petak.
Hasil
penelitian pada minggu III menunjukkan adanya peningkatan kemampuan motorik
kasar anak dalam aspek yang ada dalam instrumen penelitian.
![]() |
Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan lagi dalam kemampuan
motorik kasar anak. Untuk keaktifan anak berusaha menghindari lawan; anak yang
sangat aktif berjumlah 11 anak, aktif berjumlah 2 anak, kurang aktif berjumlah
0 anak, anak tidak mau mengikuti 0. Untuk kelincahan anak saat melintsi 5 buah
rintangan sejauh 20 meter; anak yang sangat lincah berjumlah 11 anak, untuk
anak yang hanya lincah berjumlah 2 anak, kurang lincah berjumlah 0 anak, untuk
anak tidak mau mengikuti 0 anak.
Tabel
10
Tabel
Pencapaian Perkembangan Fisik Motorik Anak
|
No. |
Nama |
Nilai |
Jumlah |
|||
|
A |
B |
C |
D |
|||
|
1. |
Dewi Kafiyah |
4 |
4 |
4 |
4 |
16 |
|
2. |
Lia Hikmatul Maula |
3 |
3 |
3 |
4 |
13 |
|
3. |
Fadlan Birrul Amin |
4 |
4 |
4 |
4 |
16 |
|
4. |
Muhammad Adityia Ainurrohman |
2 |
3 |
3 |
4 |
12 |
|
5. |
Novi Andini Putri |
2 |
3 |
4 |
4 |
13 |
|
6. |
Muhammad
Afandi Azhar |
2 |
3 |
4 |
4 |
13 |
|
7. |
M
Jaelani |
1 |
2 |
4 |
3 |
10 |
|
8. |
Wardatul Mukarromah |
2 |
2 |
4 |
4 |
12 |
|
9. |
Alif Haikal Ilmi |
2 |
2 |
1 |
4 |
9 |
|
10. |
Harnum salsabila |
2 |
2 |
4 |
4 |
12 |
|
11. |
Hidayatul Laili |
2 |
2 |
3 |
3 |
10 |
|
12. |
Lukman Hakim |
3 |
2 |
4 |
4 |
13 |
|
13. |
M Alaikal Asroril Abror |
3 |
1 |
4 |
4 |
12 |
Keterangan:
A.
Anak dapat mengenal
tubuh dan fungsinya
B. Anak
dapat melakukan berbagai gerakan secara terkoordinasi seimbang dan lincah
C. Anak
bisa berlari pada garis lurus
D.
Anak bisa membaca
peluang
![]() |
Keterangan:
Sangat Aktif dan Lincah :
SAL
Aktif dan Lincah :
AL
Belum Aktif dan Lincah :
BAL
Kurang Aktif dan Lincah :
KAL
SIMPULAN
DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan
hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa melalui permainan gobak sodar
dapat mengembangkan kemampuan motorik kasar pada anak kelompok B RA Wali Songo.
Perkembangan peningkatan kemampuan motorik kasar anak ditunjukkan melalui
kegiatan observasi pada proses kegiatan belajar mengajar dengan melintasi 5
buah rintangan dan permainan Gobak sodor. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara
terstruktur sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat sebanyak 3
minggu.
Hasil penelitian
menunjukan bahwa pada awal kemampuan anak saat beramain gobak sodor atau anak
yang aktif menghindari lawan berjumlah 5 anak, pada minggu I meningkat menjadi
6 anak, pada minggu II meningkat menjadi 12 anak dan pada minggu III meningkat
menjadi 13 anak.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mengemukakan beberapa
saran sebagai berikut:
1. Bagi Guru
Perlunya
memberikan kegiatan pembelajaran melalui permainan, baik permainan modern
maupun permainan tradisional yang dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar
pada anak.
2. Bagi
Peneliti
Dari
hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengalaman dan pengetahuan bagi
peneliti untuk mengembangkan berbagai jenis permainan tradisional sehingga
kemampuan motorik kasar anak dapat berkembang secara optimal.
3. Untuk
Peneliti Selanjutnya
Penerapan
metode pembelajaran lingkungan guna meningkatkan kemampuan kognitif anak untuk
penelitian selanjutnya mempersiapkan terkait tempat bermain yang aman dan
nyaman sehingga membuat anak-anak lebih tenang dan lancar dalam bermain.
DAFTAR RUJUKAN
Aip Syarifuddin. (1992). Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.
Aita Lie. (2013). Menjadi Orang Tua Bijak; 1001 Cara
Menumbuhkan Percaya Diri Anak Usia Balita Sampai Dewasa. Jakarta: Gramedia.
Anas Sujdiono. (1986). Pengantar Statistika Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Andang Ismail. (2006). Education Games. Yogyakarta: Pilar Media.
Bambang Sujiono, dkk. (2007). Metode Pengembangan Fisik. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.
Depdiknas. (2010). Pedoman
Pengembangan Program Pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Jakarta : Ditjen
Mendiknas.
David L. Gallahue & Jhon C. Ozmun. (2002). Undarstanding Motor Development; Infants,
Children, Adolescents, Adults. New York: Mc Grow Hill.
Decaprio, Richard. (2013). Aplikasi Teori Pembelajaran Motorik di Sekolah. Yogyakarta: Diva
Press.
Departeman Pendidikan Nasional. (2002). Kamus Besar
Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Endang Rini Sukamti. (2007). Diktat Perkembangan Motorik. Yogyakarta: FIK Universitas Negeri
Yogyakarta.
Hajar Pamadhi. (2001). Bermain Gobak sodor. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Harun Rasyid,
Mansyur, & Suratno. (2012). Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini.
Yogyakarta: Gama Media.
Hurlock B. Elizabeth. (1998). Perkembangan Anak (Terjemahan: Med Meitasari Tjandrasa dan Muchican
Zarkasim). Jakarta: Erlangga.
K. Eileen Allen & Lynn R. Marotz. (2010). Profil Perkembangan Anak; Prakelahiran
hingga 12 tahun. Jakarta: PT Mdeks.
Martinis Yamin & jamilah Sabri Sanan. (2013). Panduan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:
Gaung Persada Press Group.



Komentar
Posting Komentar